Selasa, 08 September 2009

Air Buangan
ADA KAH VALVE BUAT PERPIPAAN AIR BUANGAN?


Anda tentu sudah tahu, apa fungsi dari memasang katub/valve pada perpipaan? Betul, fungsinya adalah untuk “membuka/tutup” aliran air/fluida yang melaui pipa tersebut. Lalu kenapa harus di buka/tutup?, well tentu ada banyak alasan, mulai dari alasan operasional rutin (seperti buka/tutup krean bak mandi kamu) hingga alasan pemeliharaan (perbaikan di sisi hilir pipa yang mengharuskan aliran dihentikan selama perbaikan).
Tapi bagaimana dengan perpipaan air kotor? Bukankan air buangan itu kadang mengadung partikel-partikel padat, belum lagi kandungan asam yang bisa menyebabkan korosif pada perpipaan dan juga acessories yang terbuat dari logam
Solusinya tentu saja ya kamu harus memilih pipa dan acessories yang bukan terbuat dari logam yang mudah karat (semisal PVC, HDPE, kuningan, atau bahkan stainless steel) namun tentu saja semua dikaitkan dengan biaya yang ada.
Bayangkan, jika kamu memasang katub/valve diameter besar yang dilalui oleh air buangan, tidak berapa lama tentu kamu akan mengalami kesulitan mengopreasikan valve tersebut (mulai dari alasan mampet, hingga alasan sulit di buka/tutup gara-gara “putaran” valve sudah menyatuoleh karat). Tambah repot kan?
Nampaknya kamu harus berpikir keras untuk mengatasi hal ini, solusinya ya gunakan bahan yang tahan karat, atau cari cara lain untuk tidak menggunakan saluran tertutup, atau cari cara lain untuk menghindari adanya katub/valve pada perpipaan air buangan.
PILIHAN KOMPROMIS
February 25, 2009 – 9:05
KAMU sudah sedikit membahas tentang sistem komunal kan? (coba cari lagi artikelnya disini), nah, lantas bagaimana kamu harus menentukan sistem yang “tepat” jika kebetulan daerah yang akan kamu layani ternyata memiliki kondisi geografis yang relatif datar ??.
Ada solusi untuk mengatasi hal ini (dalam hal ini diasumsikan biaya investasi adalah tidak terbatas), yaitu dengan sistem vacuum, yaitu jaringan pipa “sewerage” dibuat bertekanan, dan digerakkan dengan pompa.
Ah lagi-lagi pompa…, saya termasuk yang menghindari penggunaan sistem mekanis, apalagi untuk infrastruktur yang masih sulit diharapkan bisa “cost recovery” (apa artinya? terima aja dulu deh!!)
Solusi yang moderat adalah mengambil “jalan tengah”, yaitu dengan mengkelompokkan beberapa sumber pencemar menjadi kelompok-kelompok kecil yang dilayani secara terpusat. Istilah kerennya DECENTRALIZE.
Artinya secara teknis, pengaliran “sewerage” secara gravitasi untuk area pelanggan yang lebih kecil masih bisa dimungkinkan. Sistem ini merupakan pilihan diantara sistem individual dan sistem komunal.
Sistem “semi komunal” ini diharapkan merupakan pilihan “tengah-tengah” yang paling bisa diterapkan sebagai jalan keluar sistem sanitasi terbaik yang harus diaplikasikan..



SISTEM KOMUNAL

YANG dimaksud dengan sistem komunal adalah penggabungan sistem-sistem pribadi menjadi satu dan terpusat.
Contoh dalam pengelolaan air buangan (domestik/rumah tangga) adalah menyatukan semua sistem air buangan dari setiap rumah, yang biasanya individu, menjadi dikelola bersama, dalam satu tempat yang terpusat, dengan harapan menjadi lebih “mudah” mengontrol “operasional” nya, dan well.. tentu lebih BERSIH.
Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kamu menerapkan sistem “komunal” ini, diantaranya yaitu :
1. Secara teknis, pastikan sistem ini bisa berfungsi secara gravitasi, tidak diharapkan menggunakan tenaga bantu dari pompa misalnya, semuanya harus GRAVITASI. Maka sistem komunal harus benar-benar dipertimbangkan jika akan diterapkan di daerah yang datar/flat.
2. Investasi terbesar dari sistem komunal ini adalah pada biaya perpipaan “distribusi” nya. Dari tiap-tiap rumah harus ada “saluran” menuju tempat pengolahan terpusat. Biaya semakin mahal jika sistem ini mau dilaksanakan pada daerah yang sudah terbangun.
3. Pastikan ada yang mengelola sistem ini saat sudah terbangun, pengelolaan meliputi operasional dan pemeliharaannya. Pengelolaan bisa dilakukan oleh instansi pemerintah terkait, swasta, atau partisipasi masyarkat. Penetapan siapa yang akan mengelola ini harus menjadi komitmen, kesepakatan yang sejak awal harus sudah dipastikan.


BENARKAH JANGAN MEMBUANG AIR SABUN KE DALAM LUBANG TOILET ?
“BENAR !, jangan sesekali membuang air sabun ke dalam lubang toilet, nanti air sabun itu akan “membunuh” mikroba pengurai di septictank…”
Demikianlah salah satu uraian yang kerap disampaikan pada penyuluhan tentang bagaimana memelihara dan mengoperasikan jamban. Tapi benarkah jangan memasukkan air sabun ke dalam sana?, mari kita cermati..
Sistem pengelolaan air buangan, terutama yang “komunal” kadang menyatukan semua air buangan, baik yang dari air mandi (grey water), dan air kotoran manusia (black water). Nah jika situasi ini terjadi, lantas bagaimana cara “memisahkan” air sabun bekas mandi? toh semua “limbah” nya akan menuju tempat yang sama.
Atau bagi kamu yang biasa menggunakan toilet jongkok, tentu sangat merepotkan untuk “pindah tempat” saat membersihkan diri agar air sabunnya tidak masuk ke lubang toilet, atau bahkan ke lubang drain.
Belum lagi bagi mereka yang membersihkan keramik kamar mandi dengan cairan pembersih, itu juga bisa jadi mengandung detergen yang nota bene lebih EDAN daya rusaknya daripada SABUN.
Sebaiknya kita harus yakin, bahwa sekali lagi mikroba itu ada di mana-mana, dan selama “sistem pengelolaan” air limbah kita berjalan normal, dalam arti normal digunakan, normal keberadaan airnya, maka keberadaan sabun bahkan detergen pun akan membuat sistem tetap SETIMBANG. Yakinlah bahwa jika semua berjalan normal, maka mikroba yang ada di tangki septik akan mati sebagian atau bahkan “pingsan” untuk kemudian digantikan oleh mikroba lain yang berlimpah.
Tentu saja mudah dipahami jika kamu secara demonstratif memasukkan berbotol-botol cairan pembersih, lalu air sabun, ditambah dengan kamu jarang menggunakan tiolet kamu secara normal, belum lagi kebutuhan air untuk membilasnya kurang, hal iniakan membuat “perkumpulan mikroba” akan berantakan, alias mati total.
Yang lebih baik disarankan sebenarnya adalah : jangan membuang benda-benda padat, atau bahkan sampah ke dalam lubang WC atau saluran air sekalipuna, karena itu bukan tempat sampah, dan kalau menyumbat, lebih membikin repot daripada memirkan “kematian” mikroba karena air sabun.
Kata kuncinya adalah : JANGAN BERLEBIHAN, gunakan sabun seperlunya, bersihkan kamar mandi dengan menggunakan cairan pembersih secukupnya, dan gunakan tiolet secara normal.
DARIMANA MIKROBA UNTUK PENGOLAHAN AIR BUANGAN ?

SETELAH anda mengetahui apa yang menjadi kebutuhan sebuah sistem pengolahan air buangan, lantas dapatkan kamu menjawab pertanyaan berikut : Dari mana kah kamu mendapatkan mikroba yang bertugas “membersihkan” air buangan tersebut?
Perlu kamu ketahui bahwa mikroba itu “berlimpah” di sekeliling kita, di udara, di tanah, di badan kamu, di makanan, apalagi di tempat sampah, di comberan. Nah dari mana mereka berasal? ya tentu ada di mana-mana
Seperti halnya mahluk hidup yang lain, mokroba akan “mencari” sendiri tempat hidupnya yang cocok. Mereka akan “berkumpul” sesuai tempat dan jenisnya, misal yang suka di saluran got tentu berbeda dengan yang “kumpul” di tempat sampah. Begitu juga yang “doyan kongkow” di septictank juga akan berbeda dengan yang nongkrong di sawah.
Jika sebuah pabrik membutuhkan pengolahan air buangan/limbah juga sesuai dengan jenis pabrik nya, mikroba yang hidup di sistem pengolahan pabrik tahu tempe, akan berbeda dengan jenis mikroba yang hidup di sistem pengolahan pabrik penyamakan kulit.
Artinya, semua mikroba itu “nongol” dan datang dengan sendirinya, menyesuaikan diri, beradaptasi hingga dirasa cocok dan “betah” tinggal di sana. Kamu hanya menyiapkan GRIYA buat mereka.
Namun adakalanya upaya “otomatis” itu memakan waktu lama, sebuah septic tank atau sistem pengolahan limbah domestik bisa membutuhkan waktu “pengkondisian” hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Desain sebuah instalasi sangat bergantung pada “nasib” mikroba yang HIJRAH ke wahana yang kamu bangun. Atau “bangunan” pengolah limbah kamu akan “kosong” tidak berfungsi apapun.
Untuk industri yang spesifik, biasanya mikroba bukan di “tunggu” tapi sudah di datangkan khusus dari tempat “karantina”, artinya dilakukan seleksi mikroba yang cocok tuk tinggal di pengolahan limbah terkait, sehingga tidak perlu menunggu waktu lama, proses “penanaman” bakteri ini disebut INOKULASI.
Untuk skala rumah tangga, kadang dilakukan “pancingan” dengan memasukkan lumpur dari comberan atau dari septictank tetangga, dengan harapan mikroba di lumpur itu akan lebih cepat “bekerja”

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda